Tarbiyah, Dakwah, dan Sejuta Cita serta Cinta

Tulisan ini merupakan naskah yang saya ikutkan dalam lomba menulis “Aku dan Wahdah Islamiyah” dan tidak lolos 20 besar. Hehe. Setelah saya membaca naskah dari para pemenang lomba yang dibukukan dalam buku “Kumpulan Kisah Aku dan Wahdah Islamiyah” maka saya menyadari tulisan saya sangat tidak layak ada dalam buku tersebut. Haha. Ini dia “penampakkan bukunya” taraaaaaaa…

buku-akudanwahdah

Maka dari itu, daripada mubazir naskah ini saya terbitkan saja dalam blog pribadi. 😀 Jadi, inilah dia tulisan saya “Tarbiyah, Dakwah, dan Sejuta Cita serta Cinta”

Tarbiyah, Dakwah, dan Sejuta Cita serta Cinta

Hari ini aku ingin membagikan kisahku padamu. Iya, padamu. Entah siapapun kamu, yang dengan sengaja ataupun tidak sengaja mendapati tulisan ini. Tulisan ini kubuat dengan harapan dibaca olehmu yang mungkin sedang merasakan betapa sulitnya memperbaiki diri, sehingga kau bisa menyadari bahwa ada aku di sini –dan mungkin ratusan atau ribuan orang lain- yang sedang menjalani proses yang sama. Tulisan ini juga kubuat untukmu, yang mungkin baru memiliki keinginan untuk memperbaiki diri, dengan harapan kau akan menyadari betapa proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik itu memiliki kenikmatan tersendiri, sehingga kau tak perlu takut mewujudkan keinginanmu itu. Tulisan ini juga kubuat untukmu, yang bahkan mungkin belum memiliki keinginan untuk beranjak dari hidupmu yang sekarang, yang membuatmu terpuruk tetapi terlanjur larut di dalamnya. Tetapi saya meyakini, setiap manusia memiliki fitrah untuk menjadi baik. Sehingga saya berharap fitrah itu menemukan jalan keluarnya.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
(QS. Ar Ruum: 30)

Hari ini saya sedang duduk di sini, di salah satu sudut Rumah Sakit, berteman hiruk-pikuk kesibukan dunia yang bisa jadi melalaikan namun bisa jadi justru membuat kita menyadari banyak hal. Mungkin kau akan bertanya, “sedang apa kau di situ? Apa kau seorang dokter, perawat, bidan, atau mungkin pasien? Atau cleaning service? Atau malah penjaga kantin rumah sakit?” Saya hanya akan tertawa sejenak, dan kemudian menjawab pertanyaan itu. Saya hanyalah seorang mahasiswi, yang sedang pindah rutinitas tempat belajar dari kampus ke rumah sakit. Seorang mahasiswi, yang dulu sebelum menyelesaikan S1 Kedokteran, rutinitas kami adalah belajar di kelas serta hanya bertemu dan berinteraksi dengan dosen, staff, dan mahasiswa. Sekarang kami belajar di Rumah Sakit, bertemu dan berinteraksi dengan lebih banyak orang. Dengan dokter, perawat, bidan, pasien, cleaning service, ataupun penjaga kantin Rumah Sakit.

Selama saya berada di tempat ini, saya menyadari banyak hal. Tempat ini punya makna dan sudut pandang yang bebeda-beda bagi setiap orang sesuai dengan latar belakangnya masing-masing. Bagi dokter, bidan, atau perawat, Rumah Sakit bisa jadi hanya sekedar tempat mencari nafkah. Tetapi bisa juga memiliki makna yang lebih dalam lagi, yaitu tempat bekerja sesuai keilmuan dan berharap pahala dengan menjadi seseorang yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.[1]

Namun, sungguh berbeda kondisinya bagi seorang pasien. Dari sudut pandang mereka, tempat ini adalah tempat yang sungguh menunjukkan kelemahan diri. Betapa tidak berdayanya diri ketika satu nikmat dari banyaknya nikmat Allah dicabut, yaitu nikmat kesehatan, yang seringkali dilalaikan manusia. Mereka rela mengeluarkan harta berapa pun untuk mengembalikan nikmat Allah ini. Betapa manusia seringkali lupa bersyukur baik dengan ucapan maupun tindakan.

Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Berbeda pula bagiku, apa makna tempat ini bagiku? Bagi seorang mahasiswi Coass[2] sekaligus muslimah ter-tarbiyah? Lagi-lagi kau mungkin akan bertanya padaku, “apa lagi yang kau maksud dengan istilah tarbiyah? Bukan sejenis makanan ringan, kan?” Saya hanya akan menahan tawa. Bukan kawan, tarbiyah bukanlah sejenis makanan ringan. Jika kau ingin tahu, kau hanya perlu menyimak tulisan ini sampai tuntas. Semoga dengan itu, kau bisa memahami apa dan bagaimana tarbiyah itu.

Lantas? Bagaimana tempat ini bagiku? Sekedar tempat belajar? Tempat mengejar cita-cita dunia? Ataukah tempat yang dipenuhi dengan kesibukan dunia sehingga melalaikan dari akhirat? Let me tell you something, idealnya, bagi seorang muslim atau muslimah tertarbiyah, tidak perlu ada yang namanya memisahkan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Karena sejatinya, seorang muslim atau muslimah tertarbiyah menyadari bahwa urusan dunia yang ia jalani merupakan jalan baginya untuk mendapatkan akhiratnya. Iya, idealnya, setiap rutinitas yang kita jalani memiliki orientasi akhirat. Saya katakan “idealnya”, karena sampai saat ini saya pun sedang terseok-seok dan merangkak untuk mewujudkan kondisi ideal itu. Tarbiyah mengajarkan saya untuk menanamkan prinsip “Letakkan urusan dunia di tangan dan urusan akhirat di hati.” Jika raga dan jasad secara kasatmata terlihat sibuk dan “tercelup” dalam urusan dunia, maka hati kita tidak perlu terbenam dan berlarut dalam urusan dunia yang seringkali melalaikan. Maka tidak mengapa kita bersabar dalam meraih cita-cita dunia yang fana ini jika itu bisa menjadi wasilah atau jalan agar kita bisa menggapai cita-cita tertinggi kita.

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ (H.R. Ibnu Majah)[3]

Saya lagi-lagi membayangkan kau akan bertanya, “Lantas apa cita-cita tertinggimu itu?” Setiap muslim seharusnya memiliki cita-cita yang tinggi. Dan sebaik-baik dan setinggi-tingginya cita-cita adalah memperoleh surga dan melihat wajah Allah. Saya sangat berharap dengan menjadi dokter yang baik, menerapkan keilmuan untuk menjadi sebaik-baik manusia dengan menjadi seseorang yang bermanfaat bagi banyak orang akan mengantarkan saya pada Jannah-Nya. Tetapi, sekali lagi, tarbiyah mengajarkan saya begitu banyak hal. Tarbiyah mengajarkan saya untuk tidak “soleh binafsih” alias soleh sendiri. Kisah-kisah orang-orang soleh terdahulu yang saya dapatkan dalam tarbiyah mengajarkan saya untuk tidak menumpuk kesolehan dalam diri. Para salafussholeh[4] adalah orang-orang yang sangat senang jika melihat kebaikan tersebar di mana-mana dan merupakan orang yang paling bersedih ketika melihat kemungkaran meski dirinya sendiri tidak melakukan kemungkaran tersebut. Maka dari itulah, saya memutuskan untuk bergabung dalam barisan dakwah Wahdah Islamiyah[5], ber-amar ma’ruf nahi mungkar dalam bingkai jamaah dan ukhuwah islamiyah.

Sekali lagi, saya membayangkan ada di antara kalian yang bertanya penasaran, “Lantas? Apa yang kau dapatkan dalam jamaah itu? Apa yang kau peroleh dengan bergabung dalam Ormas islam itu?” Sama seperti program tarbiyah yang diusungnya dan yang menjadi andalannya, Ormas ini mengajarkan saya banyak hal. Berada dalam ormas ini, mengajarkan saya untuk bercita-cita tidak hanya untuk diri sendiri. Bercita-citalah untuk ummat dan bangsa. Berada di ormas ini, mengajarkan saya tentang jiwa optimisme dan semangat juang yang tinggi. Mengajarkan optimisme soal apa? Soal kejayaan Islam, bahwa kembalinya peradaban pada Ummat Islam itu sudah semakin dekat. Dengan cara apa? Dengan cara mengajak semua orang untuk tarbiyah, sederhananya, mengenal dan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Semudah itu? Iya, jika saja banyak dokter muslim atau mahasiswa muslim kedokteran ikut tarbiyah, maka dengan mudah kita mendirikan Rumah Sakit yang Syar’i. Jika saja banyak orang yang bergelut di bidang ekonomi ataupun mahasiswa ekonomi ikut tarbiyah maka dengan mudah kita akan menegakkan ekonomi bersistem syariah. Begitu pula soal hukum, pendidikan, dan lain sebagainya. Karena setiap muslim atau muslimah ter-tarbiyah paham benar bahwa tidak ada sistem yang paling sempurna selain berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. Dengan begitu, tegaknya syariat Islam bukan suatu mimpi di siang bolong. Wahdah Islamiyah memang bukan ormas yang selalu menggembar-gemborkan tegaknya syariat Islam, tapi ormas ini tahu harus memperjuangkan tegaknya syariat Islam dengan cara apa.

Namun, kau jangan salah paham dengan semua decak kagumku pada ormas ini. Bahkan mungkin sebagian dari kalian akan berkata, “Ah, kau terlalu fanatik dengan kelompokmu.” Tidak, kawan. Tidak seperti itu. Kami tidak pernah diajarkan untuk fanatik pada organisasi atau kelompok atau tokoh tertentu. Lembaga ini hanya kami jadikan sebagai “kapal” untuk berjuang bersama-sama di dalamnya untuk menuju tujuan yang sama yaitu meraih surga. Namun, bukan berarti yang masuk surga cuma anggota Wahdah Islamiyah saja, bukan berarti orang yang tidak masuk di Wahdah adalah penghuni neraka, juga tidak benar bahwa kalau masuk Wahdah Islamiyah pasti masuk surga, sama sekali tidak ada jaminan. Kesetiaan kami bukan pada orang atau kelompok, kesetiaan saya bukan pada Murabbiyah[6] saya, bukan pada Ketua Lembaga saya, bukan kepada Ormas Wahdah Islamiyah, melainkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Selama kelompok atau lembaga ini menjalankan prinsipnya alias syariat Islam, tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, maka tak perlu ada yang dipermasalahkan. Tapi andaikata lembaga ini menyimpang dari Allah dan Rasul-Nya, jika saja misalnya lembaga ini menghalalkan terorisme, atau mungkin ormas ini mau berubah jadi partai politik misalnya, maka dengan tegas dan tanpa ragu kami akan “berpindah kapal”, kami akan berhenti menuntut ilmu di Wahdah Islamiyah. Yap, begitulah pemahaman kami tentang organisasi atau kelompok ini.

Tahukah kau? Sebelum berada dalam lingkup tarbiyah dan berada dalam ormas ini, saya hampir tidak ada bedanya dengan anak-anak muda di luar sana. Jangan tanya kondisi saya saat itu seperti apa. Jika kau melihat anak muda saat ini, pakaian identik dengan jins dan jilbab yang bisa diterawang. Bangun tidur hal pertama yang dilakukan adalah mencari smartphone, cek timeline twitter, update status di path, buka instagram, soundcloud, youtube dan berbagai media sosial lainnya. Hidup dipenuhi dengan musik, drama korea, boyband dan girlband korea. Setiap hari tidak pernah lepas dari bertemankan nyanyian Justin Bieber, Taylor Swift, Selena Gomez, Demi Lovato, Super Junior, Bigbang dan semua yang menjadi idola anak muda masa kini. Yes, that was me about 3 years ago. Saya memohon ampun kepada Allah untuk setiap kejahiliyahan saya di masa lalu. Saya sengaja menyebutkan berbagai hal di atas, sungguh bukan karena bangga (innalilllah, saya justru sangat merasa malu dengan hal-hal di atas), tetapi semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kamu anak-anak muda di luar sana. Bahwa jins kesayangan bisa dengan mudah kau buang berganti dengan rok atau gamis yang tidak membuat sesak dan sempit. Bahwa nikmat mendengarkan musik bisa dikalahkan dengan nikmatnya membaca dan menghafalkan Al-Qur’an. Bahwa setiap update-an statusmu di media sosial justru bisa menjadi syiar Islam. Bahwa kau bisa melupakan semua idola duniamu itu dan menjadi begitu fanatik mengidolakan Rasulullah dan para sahabat serta sahabiyahnya.

Kedengarannya mudah? Sebenarnya tidak semudah itu. Kau akan melaluinya dengan jatuh bangun, dengan terseok-seok dan dengan luka di sana-sini bahkan dengan darah yang berceceran. Tetapi sesungguhnya hidup adalah perjuangan. Jika kau telah memilih jalan kebenaran, maka sudah menjadi hal yang sangat wajar bahwa akan ada saja penentang di tengah jalan kebenaran itu. Maka silahkan ucapkan “selamat datang” pada berbagai cobaan dan ujian hidup. Jangan takut dan jangan pesimis. Sampai saat ini pun, saya seringkali tidak pernah membayangkan bahwa saya bisa terlepas dari semua rutinitas sia-sia bahkan maksiat yang begitu melenakan itu. Saya di tiga tahun lalu, sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa hari-hariku saat ini bisa begitu nikmat rasanya. Ya, memang nikmat. Berjuang untuk terus istiqomah setiap waktu serta jatuh bangun untuk terus mendapatkan keridhoan Allah setiap hari sungguh terasa nikmat.

Proses hijrah saya memang tidak sedahsyat kisah-kisah orang lain. Setiap orang memang memiliki cobaan yang berbeda-beda. Jika salah satu penghalangmu hari ini untuk hijarah adalah soal pacar, terlanjur sayang, terlanjur cinta? Saya punya contoh lain, yaitu sahabat saya yang memiliki cobaan dari segi ini. Pacaran sudah selama 6 tahun, tidak pernah terbayangkan bahwa bisa memutuskan untuk berhenti pacaran. Di-sms dan ditelepon si pacar dulu seolah hal yang “wajib” dilakukan setiap harinya, ternyata rutinitas itu bisa tergantikan dengan rutinitas menuntut ilmu dan beramal sholeh yang memiliki kenikmatan jauh di atas semua sms dan telepon itu. Kedengarannya mudah? Sungguh tidak mudah. Tetapi semua perjuangan itu tergantikan dengan nikmatnya merasakan sebenar-benarnya iman dan semurni-murninya tauhid.

Saya akhiri tulisan ini, semoga bisa memberikan motivasi dan ibrah untukmu yang sedang dalam proses memperbaiki diri. Karena sesungguhnya kau tidak sendiri berjuang, ada aku dan ribuan orang lain yang punya perjuangan yang sama. Juga untukmu yang sedang memiliki niat untuk menjadi lebih baik. Bahwa berada di atas jalan kebenaran memang bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil bahkan memiliki kenikmatan yang mungkin tak pernah kau bayangkan. Saya juga berharap semoga bisa menularkan cita-cita dan harapan yang besar untuk ummat dan bangsa. Sehingga cita-cita dan harapan besar itu tidak hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. Sehingga kita bisa menimbulkan sejuta cinta untuk Indonesia. Cinta yang didasari oleh kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Aamiin.

-Nur Rissa Maharany

[1] Hadits dari Jabir radhiyallau ‘anhuma. Dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289).
[2] Mahasiswa Program Studi Profesi Dokter, bergelar Sarjana Kedokteran (S.Ked), biasa disebut Dokter Muda
[3] Hadits dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani.
[4] Salafussholeh adalah tiga generasi muslim awal yaitu para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.(Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Salaf)
[5] Wahdah Islamiyah adalah sebuah Organisasi Massa (Ormas) Islam yang mendasarkan pemahaman dan amaliyahnya pada Al Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman As Salaf Ash-Shalih (Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah). Organisasi ini bergerak di bidang da’wah, pendidikan, sosial, kewanitaan, informasi, kesehatan dan lingkungan hidup. (Source: http://wahdah.or.id/sejarah-berdiri-manhaj/)
[6] Guru atau pengajar yang membimbing dan membina dalam program tarbiyah

Advertisements

Puisi : Cinta Untuk Negeri


stiker
Bismillah.
Kali ini saya ingin membagikan puisi yang saya buat sekitar awal April lalu. Puisi ini dibuat dalam rangka Seminar : “Sejuta Cinta untuk Indonesia” yang diselenggarakan oleh Muslimah Wahdah Kendari pada 24 April 2016 di Grand Awani Ballroom Kendari, yang merupakan rangkaian acara Muktamar III Wahdah Islamiyah.

Seminar ini  begitu berkesan bagi saya. Acara ini benar-benar membuat saya merenungi makna ayat Al Qur’an Surah yang ketigabelas, Ar-Raad ayat 11 : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebeum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sautu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi selain Dia”

Well, inilah puisi saya. (Setelah beberapa bulan baru buka kembali puisi ini, komentar yang keluar dari mulut saya: “Ini puisi ya? sumpah, puisi buatan saya jelek amat.” haha. Tapi, puisi ini beruntung diselamatkan oleh orang-orang yang membaca puisi ini di atas panggung. Just info, puisi ini dibaca oleh 4 orang bersahut-sahutan)

Cinta Untuk Negeri
(Siapkan Donasi Terbaikmu)

Dalam hiruk pikuk gemerlapnya dunia ini
Dalam hanyutnya jiwa terbuai pada kefanaan
Di tengah keresahan hati karena harta, tahta, dan kedudukan
Muslimah.. Kuajak dirimu mengarungi samudera penuh hikmah
Dengarlah satu kisah manusia terbaik yang pernah ada..

Dalam alunan takbir yang menggema di langit Mekkah
Dalam lautan manusia yang berbondong-bondong memeluk Islam
Dalam riuh rendah kemenangan Islam dalam Fathu Mekkah,
Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya kaum Anshar,
Sekali-kali tidak. Sungguh, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku telah berhijrah kepada Allah, dan ke negeri kalian (Madinah) untuk menjadikannya sebagai tanah air kedua. Aku tidak akan meninggalkannya, bahkan tidak akan rujuk dari hijrah tersebut. Hidupku bersama kalian, dan mati di sisi kalian.”

Saudariku..
Jika saja..
Jika saja sang kekasih hati, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Begitu mencintai Madinah sebagai tanah airnya,
Sungguh, tidak akan ada yang mampu menghalangi kita
Untuk mencintai tanah air kita ini, Nusantara kita, Sang Ibu Pertiwi..
Seperti cinta Rasulullah,
Yang selalu berharap kebaikan yang banyak untuk Negerinya.

Lantas?
Bagaimanakah wujud nyata cinta kita untuk Negeri ini?
Layaknya cinta Sang Nabi,
Layaknya cinta para sahabat,
Generasi terbaik dan sebaik-baik teladan
Yang mewujudkan cintanya dengan jihad jiwa dan harta.

 

Jika hari ini ibarat Fathu Mekkah
Hari pembebasan dan penaklukkan kota Mekkah.
Pembebasan dari kejahiliyahan menjadi terang benderang dengan cahaya Islam.
Jika hari ini ibarat Fathu Mekkah bagi Indonesia
Berharap hari ini menjadi kemenangan besar bagi Islam dan Indonesia
Berharap Allah memuliakan Negeri ini
Berharap Allah menyelamatkan negeri ini dan rumah-rumah-Nya dari kejahiliyahan

Kemenangan yang membuat gembira penduduk langit dengan gemerlap bintangnya
Manusia berbondong-bondong kembali ke dalam agama Islam
Yang menerangi wajah bumi dengan sinar dan kecerahan.
Jika kita kembali ke masa itu,
Di Bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah,
Di tengah musim paceklik yang mencekik,
Saat berita Perang Tabuk diumumkan Rasulullah
Para Sahabat bersegera untuk berlomba-lomba dalam kebaikan,

Maka datanglah Abdurrahman bin Auf dengan membawa 8000 Dirham
Tak mau kalah Sang Utsman Ibn Affan datang dengan membawa 1000 Dinar
Lantas datanglah Umar bin Khattab,
Al Faruq bertekad mengalahkan Utsman dengan membawa setengah dari hartanya.
Kemudian datanglah Abu Bakar,
Ash-Shiddiq datang dengan membawa seluruh hartanya.
Lantas apa yang beliau tinggalkan untuk keluarganya?
Beliau tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya

Saudariku Muslimah..
Kuajak dirimu menyelami bukti cinta dari kisah mereka
Jangan pernah takut melarat karena bersedekah
Jangan takut rugi dan miskin karenanya
Sebagaimana seruan sedekah yang disambut dengan cinta oleh para Sahabat Nabi

Saudariku Muslimah..
Betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah
Yang disertai hati yang ikhlas
Betapa besarnya cinta yang kita persembahkan
Dari setiap sedekah yang dikeluarkan dan mengalir tanpa pamrih

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? (QS. At-Taubah: 111)

Bersedekahlah!!
Allah yang Maha Kaya akan membalasnya berkali-kali lipat
Bahkan akan membelinya dengan surga
Maka, saudariku muslimah..
Tak ada lagi cerita:
Aku takut rugi
Aku takut miskin
Aku takut melarat
Aku takut kehilangan

Ketakutan-ketakutan inilah yang senantiasa menghantui kita
Ketakutan-ketakutan inilah yang hari ini adalah musuh kita
Dan ketakutan-ketakutan inilah yang akan kita hapus dari kehidupan ini

Berikan harta dan jiwamu!
Maka Allah akan membelinya dengan surga!
Tidakkah kita menginginkan jual beli ini?
Jika hari ini kita ditanya?
Dengan apakah kita membeli surga Allah?
Dengan apakah kita membeli surga Allah?
Apakah dengan seribu dua ribu rupiah?
Mampukah kita membelinya dengan seribu dua ribu rupiah?

Jika hari itu adalah hari ini,
Jika hari itu adalah hari ini,
Siapkah kita mewujudkannya dengan donasi terbaik?
Dari Muslimah Kendari untuk Indonesia..

Sang Murabbiyah 3 (Surat Cinta)

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan Sang Murabbiyah dan Sang Murabbiyah (2)

Yang bertanya-tanya kenapa tulisan ini ada, silahkan klik link tulisan pertama dan kedua di atas. Sang Murabbiyah part 3 ini sebenarnya bukan dalam bentuk kisah seperti pada part 1 dan 2, tulisan ini merupakan surat, beneran surat yang saya berikan untuk Murabbiyah saya. Surat yang tidak kurang dari 5 lembar (hehe) yang saya berikan dengan hati tak karuan, tangan gemetar, dengan ucapan bergetar “Kak, ada suratku untuk kakak”. Tak usah berpanjang lebar kali ya, inilah tulisan ketiga untuk Sang Murabbiyah sekaligus surat cintaku untuk beliau.

Untuk Kak Niar-ku tersayang..

Murabbiyah pertamaku, yang paling punya tempat di hati kami, yang melalui perantara lisanmu saya mengenal sebenar-benarnya iman, dan semurni-murninya tauhid. Syukron kak untuk semua ilmu dan keteladanan yang sudah kau berikan dan contohkan secara nyata kepada kami. Saya memohon ampun kepada Allah, jika selama bermulazzamah dengan kakak, ada ucapan dan tingkah laku yang menimbulkan rasa kecewa dan kesedihan di hati kakak. Saya juga meminta maaf, jika saya banyak melanggar adab-adab seorang murid kepada gurunya, adab seorang adik terhadap kakaknya, atau adab seorang anak terhadap ibunya. Karena bagi kami, khususnya saya, kak niar adalah guru, sekaligus kakak, sekaligus ibu.

Iya kak, saya menganggap kakak sebagai orang yang sangat saya hargai dan hormati. Saya tidak bisa seperti mutarobbiyah lain, yang begitu leluasa bermulazzamah dengan murobbiyahnya seperti layaknya teman dekat. Entahlah, di dalam hati dan kepala saya selalu tertanam rasa segan dan hormat kepada kakak. Bagi saya, kakak adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam perubahan hidup saya menjadi lebih baik. Mungkin karena rasa segan dan hormat itulah saya jadi sungkan untuk bercerita atau curhat, kak.

Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi sepertinya kakak seringkali “gemas”, karena banyak tingkahku yang kadang “aneh-aneh” dan kakak sama sekali tidak tahu apa penyebabnya. Tidak seperti teman-teman lainnya yang setiap kali punya masalah, kak Niar bisa langsung tahu itu. Maaf kak, bukannya saya tidak ingin bercerita, layaknya seorang mutarobbiyah kepada murabbiyahnya ketika ia sedang dalam masalah. Tapi ada beberapa alasan kenapa saya tidak melakukannya.

Saya termasuk orang yang tidak pandai bercerita secara lisan, apalagi mengenai diri sendiri. Saya tidak tau harus memulai darimana, apa yang harus saya tanyakan dan sebagainya. Selain itu, entahlah, mungkin ini salah, tapi saya selalu merasa jika menceritakan masalah kepada seseorang, itu sama seperti “mengeluhkan” masalah yang dihadapi. Selain itu juga, setiap masalah yang saya hadapi, sepertinya memang sudah ada semua solusinya dalam materi-materi tarbiyah kita dan dalam semua sharing pengalaman yang kakak ceritakan. Saya sepertinya sudah bisa menerka apa jawaban kakak terhadap masalah saya. Tapi, masalahnya memang ada pada diri saya kak, saya yang sangat sangat susah mewujudkan secara nyata semua teori-teori tarbiyah itu. Saya juga kadang merasa malu, jika dibandingkan dengan semua kisah-kisah tentang diri kakak, tentang masalah-masalah yang pernah kakak hadapi, sepertinya masalah yang saya hadapi itu sangatlah kecil. Mungkin ini yang dibilang setiap orang punya “jenis” cobaan masing-masing.

Mmm, begitulah kak. Mungkin kakak akan bertanya, “Lantas, untuk apa saya menulis ini?” Emm, jawabannya kak, karena saya ingin menceritakannya. Mungkin saya tidak bisa bercerita secara lisan, tapi setidaknya saya mungkin bisa meluapkan perasaan lewat tulisan. Selain itu, saya juga tidak ingin lagi melanggar adab seorang murid kepada gurunya, adik terhadap kakaknya, dan anak terhadap ibunya. Kepada kak Niar, seorang guru, kakak, dan ibu yang sudah begitu peduli terhadap saya. Saya tidak mungkin begitu “cuek bebek” dengan seseorang yang begitu peka dan begitu peduli terhadap saya. Semoga saya tidak terlambat untuk memperbaiki kesalahan ini. Sekali lagi maaf kak, saya tidak bercerita dari dulu karena berbagai alasan di atas. Saya baru bercerita sekarang, karena saya baru menemukan metode bercerita yang tepat, yaitu dengan menulis. Itupun, entahlah kak, tulisan ini akan sampai di tangan kakak atau tidak. Tapi jika kakak sudah membaca ini, itu artinya saya sudah mengumpulkan keberanian yang begitu besar untuk memberikannya. Sampai saat menulis ini pun, pikiran-pikiran di dalam kepala saya masih berkelahi apakah memberikan ini kepada kakak atau tidak.

Emm, terkait pertanyaan kakak sejak berminggu-minggu dan berbulan-bulan lalu, tentang pertanyaan kakak, ”kenapa dek?” atau “ada masalah apa, dek”, saya akan menjawabnya.

Maaf ya, beberapa bagian disensor, hhahah. Langsung ke penutup surat.

Saya sudahi tulisan ini kak, semoga bisa menghapus semua tanda tanya di kepala kakak. Menghilangkan rasa “gemas” kepada saya karena saya tidak pernah menceritakan semuanya kepada kakak. Menjawab pertanyaan-pertanyaan kakak, “kenapa, Nubi dek?” atau memenuhi permintaan kakak yang memintaku untuk datang ke rumah bercerita. Saya memohon ampun kepada Allah jika dalam bercerita saya banyak mengeluh, banyak menuntut pembenaran untuk sesuatu yang jelas salah, bahkan jika muncul rasa riya, saya mohon ampun kepada Allah. Saya juga memohon ampun kepada Allah jika selama ini saya pernah menyakiti hati kakak, mengecewakan kakak, membuat kakak gelisah. Saya meminta maaf atas kesalahan-kesalahan tersebut kak. Syukron untuk semuanya kak. Untuk semua ilmu, semua pengalaman, semua keteladanan, semua kisah yang bisa kami ambil hikmahnya dari kakak. Doakan kami untuk tetap istiqomah di jalan tarbiyah dan jalan dakwah, khususnya saya kak. Setelah kejadian bulan-bulan lalu ini, saya merasa saya yang paling goyah imannya di antara teman-teman satu halaqah tarbiyah yang lain. Mohon doanya kak. Kami juga akan selalu dan senantiasa mendoakan kakak. Dan semoga kita bisa dipertemukan kembali. Cepat pulang, kak! ^_^

Dari Nubi, yang akan selalu jadi mutarobbiyahnya kak Niar.
Ahad, 21 Februari 2016
Pkl. 07.32 Pagi

…..

Galau? Galau? Galau?
Samaaa. Hehe.
Galaunya kuadrat karena sedang tidak ada waktu untuk menuliskan kegalauan.
Ya, sudahlah.
Semoga Allah mengurangi galauku dan galaumu juga.
Maafkan postingan yang tidak jelas dan galau ini. Hehe

Dream it! And then, Do it!

635905677386074784-1618317641_dream
I am a woman with a lot of ideas, a cup of wishes, and a bucket of dreams!
Saya sangat suka bermimpi, baik dalam keadaan tidur, duduk, maupun berjalan. 😀 Saya sangat suka bunga tidur yang indah di tengah malam, ataupun ide-ide tentang masa depan saat duduk bercengkrama dengan sahabat, ataupun cita-cita yang berkelebat dalam pikiran saat berjalan kesana-kemari di tengah kesibukan. Membayangkan hal-hal baik untuk hari-hari esok sungguh menyenangkan. Bagi saya, masa depan diciptakan bukan untuk membuat kita khawatir apa yang akan terjadi besok. Menurut saya, masa depan layaknya mimpi indah di tengah lelapnya malam, bagaikan secangkir kopi manis yang telah kita bayangkan komposisinya untuk dibuat dan diminum esok pagi, memikirkannya sungguh menyenangkan.

Tulisan ini saya buat untuk bercerita tentang mimpi-mimpi dan cita-cita. About a bucket of my dreams! Saya ingin tulisan yang dibuat tanggal 3 April 2016 ini menjadi “titik awal” atau “garis start” untuk mimpi-mimpi saya. Mungkin saya akan mengecek kembali tulisan ini di tanggal 3 April 2017 tahun depan, atau bisa jadi saya akan me-refresh mimpi-mimpi ini di 5 tahun yang akan datang -3 April 2021, atau mungkin saja saya akan me-repost-nya 10 tahun lagi -3 April 2026, jika Allah mengizinkan, insya Allah. So these are my dream-lists! Inilah dia “daftar mimpi” saya! (Maafkan jika kau banyak menemui hal-hal tidak masuk akal, saya suka memikirkan hal-hal “ekstrim”. Sebab, tak ada yang mustahil bagi-Nya, kata Allah, “Berdoalah kepada-Ku maka akan Aku kabulkan”)

Pertama. My first dream. Become a wife and become a mom. Klise yah? Haha. Saya meyakini kebahagiaan sesungguhnya bagi seorang perempuan adalah menjadi istri dan menjadi ibu. Impian ini entah kapan akan menjadi kenyataan? (Wiih, Terdengar galau? Haha terserah! 😀 Asal jangan putus asa) 10 tahun lagi? 5 tahun lagi? atau mungkin tahun depan? Kita tidak tahu. Yang jelas, saya punya impian tersendiri untuk sosok suami dan anak-anakku kelak. Kau jangan membayangkan impianku itu adalah “kaya raya, cerdas, dan tampan”. Tidak. Impianku sederhana saja, “Yang baik akhlak dan agamanya”. Sederhana memang, tapi kedengarannya cukup sulit. Mmm, saya tidak punya standar khusus akan seperti bagaimana rumah tangga saya kelak. Saya suka bermimpi tetapi tidak suka memasang harapan tinggi. Jujur, saya ingin mengawali rumah tangga tanpa harapan yang melambung tinggi, bahwa pernikahan itu indah, happily ever after, dan sebagainya. Tidak, tentu rumah tangga tak akan selalu indah, akan selalu ada aral melintang, cekcok dan sebagainya. Mengutip istilah Murabbiyah saya: “Rumah tangga perjuangan”. Iya, rumah tangga yang di dalamnya selalu terisi dengan perjuangan untuk terus istiqomah serta bersama-sama mengambil peran dalam berkhidmat untuk Islam. Meski perjuangan itu tidak selalu indah, bahkan mungkin akan terasa pahit dan getir. 🙂

Kedua. Saya ingin menjadi pengajar. Dosen? Bisa jadi. Intinya pengajar. Saya suka berdiri di hadapan orang-orang dan “menceritakan” ilmu yang saya ketahui, meski ilmu itu apa adanya. Saya sebenarnya orang yang introvert, tidak begitu percaya diri bersosialisasi dengan orang, tetapi entah kenapa, saya selalu suka mengajar, kekuatan dan kepercayaan diri muncul begitu saja saat merasakan sensasi akan “berbagi ilmu”, sekali lagi, meski ilmu itu hanya sekedarnya saja. Mungkin turunan dari Ayah saya, beliau dulu adalah seorang guru SD, bahkan sejak saya baru belajar berjalan, saya selalu dibawa oleh Ayah saya ke sekolah, dan selalu menyenangkan melihat beliau mengajari murid-muridnya, bercanda, memuji murid-muridnya yang pandai, memasang “muka sebal” pada murid-muridnya yang sedikit “kurang nyambung” dengan materi pelajaran, serta menjewer (pake rasa sayang) murid-muridnya yang bandel. Selalu menyenangkan mengenang suasana riuh rendah yang diciptakan sang Ayah di dalam kelasnya. 🙂 Sekarang beliau sudah sedikit “naik tingkat” menjadi seorang dosen, saya tidak tahu suasana seperti apa yang ia ciptakan dihadapan para mahasiswa. Apakah sama dengan di hadapan anak-anak SD dahulu? Haha. Entahlah, saya tidak pernah diajak ke kampusnya, mungkin karena saya bukan lagi “pengangguran” seperti anak usia 3 tahun dahulu. Haha. Lagian saya juga pulang kampung hanya setahun sekali atau dua kali. 🙂

Ketiga. Become a doctor. Saya sangat banyak diuji oleh Allah untuk mewujudkan impian saya yang satu ini. Ujiannya beragam, baik itu dari faktor internal dan faktor eksternal. Untuk mewujudkan impian yang satu ini, saya sangat sering harus dengan terpaksa “meruntuhkan” idealisme yang saya bangun dengan susah payah. Tetapi, tak ada jalan lain selain bersabar. Motavasi saya menjadi dokter, semoga tidak penah mengarah pada harta maupun materi. Sebab, kami selalu dinasehati, “Jika ingin kaya, jangan jadi dokter tapi jadilah pebisnis/pengusaha. Tapi hati-hati! Ada orang yang ingin kaya dengan menjadikan profesi dokter sebagai bisnis!” Lagi-lagi, selain sosok Ayah, sosok Murabbiyah adalah orang yang sangat berpengaruh dalam membentuk cita-cita dan impian saya. Beliau adalah inspirasi saya dalam bercita-cita, baik itu cita-cita pribadi maupun cita-cita untuk ummat dan bangsa. Beliau melanjutkan kuliah sampai S2 adalah untuk menjadi pengajar serta bertekad “membombardir” dakwah dari segi pendidikan. Maka, beliau menularkan cita-cita itu pada kami, “Jadilah dokter! Dan gencarkan dakwah dari sisi Kesehatan! Kalau perlu, mari kita bangun Rumah Sakit Islami!

Keempat. I want to be a writer. Impian yang satu ini entah kapan muncul. Saya tidak pernah benar-benar tahu kapan saya mulai suka menulis. Entahlah, saya suka menulis pun sebenarnya karena “ketidaksengajaan”. Menulis bagi saya seperti meluapkan apa yang tidak bisa saya luapkan dengan lisan maupun tindakan. Saya bukan orang yang suka berceloteh dan bercerita. Untuk mengeluarkan kata-kata atau melakukan tindakan pun saya banyak berpikir sebelum melakukannya. Dan ujungnya, ada yang keluar dari lisan dan berwujud tindakan, tetapi jutaan yang hanya tertinggal dalam pikiran. Pemikiran-pemikiran tentang suatu kondisi, hikmah dari suatu kejadian yang saya alami, sangat jarang saya ceritakan secara lisan kepada orang-orang, selalu saja hanya berkelebat berputar-putar dalam kepala. Dan kemudian, entah bagaimana mulanya, saya menemukan cara yang tepat untuk meluapkan semua itu, yakni dengan menulis. Dan cita-cita terbesar seseorang yang suka menulis adalah agar tulisannya bisa dibaca oleh orang lain dan bermanfaat serta menjadi inspirasi bagi orang lain.

Kelima. Saya ingin melanjutkan kuliah di luar kota, ataupun luar negeri, dimanapun itu asal jauh. Haha. Saya suka merantau. Menempuh jarak yang jauh untuk memperoleh suatu ilmu seperti punya seni tersendiri. Meski tidak sesuai dengan jati diri saya sebagai seorang Muslimah. 🙂 Maka dari itu, syarat untuk mewujudkan impian yang satu ini adalah harus kota/negara muslim yang dituju, serta harus punya mahrom untuk diajak kesana. 🙂

Sebenarnya masih banyak lagi wish-list alias daftar harapan saya, tapi ya sudahlah ini saja dulu. Mari kita lihat, mana yang akan terwujud lebih dahulu. 🙂 See you in 2 April 2017, or 2021, or 2026, my dream! These are my dreams, and how does your dream??
dream1

Maret!

Assalamu’alaikum!
Long time no blogging, guys! Maret telah tibaa, bagaimana Februarimu?
Februariku baik-baik saja, Alhamdulillah. Beberapa project Februari telah selesai, tapiiiii belum sempat diposting di blog ini. huh, sepertinya saya punya terlalu banyak janji di blog ini, ibarat banyak utang yang belum dilunasi. *haha.

Postingan ini hanya untuk menyambut Maret yang insyaa Allah lebih baik dari Februari. I have more more more spirit in this March!

”Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran…” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

 

Tiga (atau empat) Project Tulisan!

image

Dikejar deadline? Dalam menulis, bagi saya tidak ada yang namanya dikejar deadline. Karena kita tidak tau kapan inspirasi atau ide menulis itu datang. Tetapiiiiiiii, saat ini saya sedang berada pada kondisi harus segera menyelesaikan tulisan-tuĺisan saya. Saya namakan ‘Writings Project‘.
Project pertama, ini request kakak pengurus LMW Wahdah Islamiyah Sultra, puisi untuk kegiatan Muslimah Wahdah menyambut Muktamar III Wahdah bertema ‘Satu Cinta untuk Indonesia’. Tapi project yang satu ini baru terlihat 30%. Deadline-nya: selesai dalam 1 bulain ini.
Project kedua, ini terkait lomba ‘Aku dan Wahdah Islamiyah’. Continue reading